Archive for the ‘Studi Tafsir di Indonesia’ Category


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Isi al-Qur’an begitu luas dan dalam. Ibarat laut yang tidak ada tepinya. Isinya tidak akan habis-habisnya ditimba. Said Jamaluddin al-Afgany berkata, “ Al-Qur’anul Karim tetap selalu seperti anak perawan”. Artinya selalu diinginkan oleh ilmuan untuk menggalinya. Hidayah dan petunjuknya tatap abadi sampai akhir zaman. Sesuai dengan perkembangan sosial, budaya dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sudah waktunya diusahakan peningkatan penterjemahkan dan penafsirkan al-Qur’anul Karim sesuai dengan kemajuan yang ada. Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry adalah sebagi salah satu jawaban yang merefleksikan bagimana al-Qur’an dipahami di abad modern.

Tujuan mengkaji kitab Tafsir Rahmat karangan Oemar Bakry ini bukan sekedar untuk mengetahui biografi penulis, karaktristik tafsir dan corak tafsir. Karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian tafsir ini termasuk sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang Khalifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam.

Kemudian tujuan lain dalam mengkaji Tafsir Rahmat karangan Oemar Bakry adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehiduapn Nabi Muhammad saw, sesudah ia dipahami secara konseptional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Kajian Tafsir Rahmat karangan Oemar Bakry hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan memperjelas hakekat Islam secara utuh dalam keteledanannya yang tertinggi.

Maka kajian mengenai Tafsir Rahmat karangan Oemar Bakry akan mengupas tentang dari mulai biografinya sampai jadinya tafsir tersebut.

B.       Rumusan Masalah

Adapun beberapa rumusan masalah yang terdapat di dalam makalh ini adalah :

v  Kapan dan dimana H. Oemar Bakry dilahirkan?

v  Kitab/buku apa sajakah yang di tulis H. Oemar Bakry?

v  Apa tujuan penulisan Tafsir Rahmat oleh H. Oemar Bakry?

v  Metode apakah yang digunakan oleh H. Oemar Bakry dalam menafsirkan al-Qur’an?

v  Apa sajakah kelebihan dan kekurangan Tafsir Rahmat yang di tulis H. Oemar Bakry?

  • C.      Tujuan Penulisan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai salah satu tugas untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Tafsir di Indonesia. Selain itu makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para insan akdemis umumnya, khususnya bagi pribadi.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Biografi H. Oemar Bakry

H. Oemar bakry Lahir di Desa Kacang di pinggir Danau Singkarak Sumatera Barat pada tanggal 26 juni 1916. Pendidikan awal yang beliau tempuh di Sekolah Desa di kacang. Setelah tamat disana dan Sekolah Sambungan di Singkaarak, beliau meneruskan pelajaran pada Sekolah Thawalib dan Diniyah Putra Padang Panjang. Tamat diniyah tahun 1931 dan Thawalib 1932. Kemudian melanjutkan pelajaran pada Kulliyatul Mu’allimin Islamiyah Padang. Tamat tahun 1936 dengan angka terbaik. Tahun 1954 masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia, tidak sampai tamat.

Semasa hidup, beliau menjadi guru pada Sekolah Thawalib di Padang pada tahun 1933 s.d tahun 1936. Guru pada sekolah Thawalib Padang Panjang dari tahun 1938 sampai masuk tentara Jepang. Juga direktur Sekolah Guru Muhammadiyah Padang Sidempuan tahun 1937, Direktur The Public Typewriting School yang didirikan 21 Januari 19938 di Padang Panjang. Kemudian namanya diganti dengan Taman Kemajuan dan masih bediri sampai sekarang.

Kegiatan dakwah beliau dilaksanakan di Sumatera Barat, Jakarta dan Bandung. Memberikan Ceramah di Universitas Al-Azhar CAIRO 22 Desember ’83, kemudian di IAIN Sunan Ampel Surabaya 11 Februari ’84, di IAIN Imam Bonjol Padang 26 Maret ’84, dan di Universitas Bung Hatta Padang 28 Maret ’84.

Organisasi yang pernah beliau ikuti antara lain, Anggota Partai Politik Persatuan Muslim Indonesia (Permi) tahun tiga puluhan, Anggota Masyumi dan pernah menjadi anggota Pimpinan Masyumi Sumatera Tengah, Ketua IKAPI ( Ikatan Penerbit Indonesia ) Jakarta Raya beberapa periode, Ketua Yayasan Al-Falah, Yayasan Pemeliharaan Kesucian Al-Quranul Karim dan Yayasan Thawalib Jakarta. Dan juga beliau adalah Pendiri dan Direktur Utama Penerbit dan Percetakan Offset “Mutiara” Jakarta dan “Angkasa” Bandung. “Mutiara” didirikan 1 November 1951 di Bukittinggi dan “Angkasa” 13 Januri 1966 di Bandung.

Karya-karya beliau yang lain diantaranya :

a)      Tafsir Madrashi (bahasa Arab),

b)      Uraian 50 hadis

c)      Memantapkan rukun Iman dan Islam

d)     Apakah ada nasikh dan Mansukh dalam al-Qur’an?

e)      Al-Qur’an Mukjizat yang terbesar

f)       Keharusan memahami isi al-Qur’an

g)      Pelajaran Sembahyang

h)      Kebangkitan umat Islam di abad ke-15 Hijriyah

i)        Akhlak Muslim

j)        Polemik Haji Umar bakry dengan H.B.Yasin tentang al-Qur’an bacaan mulia.

k)      Bung Hatta selamat cita-citamu kami teruskan.

l)        Kamus Indonesia Arab Inggris

m)    Kamus Arab Indonesia Inggris

n)      Al Ahadissahihah (bhs. Arab)

o)      Makarimul Akhlak (bhs. Arab)

p)      Islam menentang Sekularisme

q)      Menyikap Tabir Arti “Ulama”.

r)       Kamus Arab Indonesia

s)       Kamus Indonesia Arab

t)       Dengan Taqwa Mencapai Bahagia

B.     Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Tafsir Rahmat

Oemar Bakry menemakan tafsirnya dengan nama Tafsir Rahmat. Dinamakan demikian karena sesuai dengan tujuan diturunkanya al-Qur’an sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah menurunkan al-Qur’an agar dipahami dan diamalkan isinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt : “Sesungguhnya kami menurunkan al-Qur’an al-karim berbahasa arab agar kamu memikirkannya“. (Q.S. Yusuf : 2).

Secara verbal Al-Qur’an ditulis menggunakan bahasa Arab, sementara kita masyarakat Indonesia masih minim pemahamannya terhadap bahasa arab. Dengan demikian, terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia sangat dibutuhkan. Adanya transliterasi Al-Qur’an dari bahasa Arab kebahasa Indonesia, dimaksudkan supaya masyarakat bisa memahami al-Qur’an (meskipun mereka tidak memehami bahasa Arab) dan bisa mengamalkan isi al-Qur’an sesuai dengan yang ia pahami.

Sekarang sudah disebut zaman ruang angkasa, zaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam yang diseru oleh al-Qur’an itu selalu berkembang alam pikirannya, cara hidup dan kehidupannya, singkatnya berkembang disegala kehidupannya. Sesuai dengan sabda rasulullah, “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan tingkat kecerdasannya”. Mengenai bahasa tentu sesuai dengan perkembangan bahasa itu. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu, sekarang sudah menjadi bahasa nasional, bahasa perasatuan bangsa. Susunannya, ejaannya, cara menulisnya sudah jauh sekali berbeda dengan dahulu kala. Kita disuruh berkomunikasi dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pendengar ataupun pembaca.

Sejumlah fakta di atas menjadi sebuah alasan mengapa Oemar Bakri berkata bahwa “tugas kita sekarang adalah melanjutkan dengan menulis terjemahan dan tafsir sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar”,[1] yaitu terjemahan yang sesuai dengan tata bahasa yang berlaku (EYD).

Menurut Oemar Bakry, ada tiga syarat yang mesti ada pada seorang penterjemah, yaitu:

v  Menguasai bahasa buku yang akan diterjemahkanya

v  Menguasai bahasa yang akan ditulisnya

v  Isi buku yang akan diterjemahkan itu memang bidangnya[2]

Secara singkat dari penjelasan diatas, menurut pemakalah bahwa yang melatar belakangi atau yang memberikan motivasi Umar bakry dalam menyusun Tafsir Rahmat adalah:

  1. Minimnya masyarakat Indonesia yang memahami bahasa arab, sehingga mereka tidak bisa memahami al-Qur’an.
  2. Meskipun sudah ada terjemahan dan tafsir al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun masih menggunakan ejaan lama dan juga terlalu leterlek, sehingga susah untuk dipahami.
  3. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tafsir Rahmat menurut Howard M. Federspiel mempunyai dua keistimewaan, yaitu:[3]

v  Karyanya menggunakan bahasa Indonesia modern dan lebih memperihatinkan perkembangan zaman daripada tafsir-tafsir yang lebih tua.

v  Menekankan bahasanya pada kesesuaian al-Qur’an dengan perkembangan teknologi.

Secara umum, tujuan Oemar Bakry menulis Tafsir Rahmat adalah memberikan kemudahan bagi mereka yang tidak atau kurang pemahamanya terhadap bahasa Arab untuk bisa memahami al-Qur’an sehingga dapat mengamalkan isinya, menterjemahkan dan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan), dan membuktikan bahwa al-Qur’an tidak bertentangan dengan sains dan teknologi.

C.      Kondisi Fisik Kitab

Kitab terdiri dari 1 Juz yang disusun pada 1333 halaman, dengan  Cover berwarna biru, pada permulaan halaman kitab terdapat foto pengarang serta biografi pengarang. Susunan kitab dari kanan ke kiri, dengan rincian pada bagian kanan halaman terdapat susunan ayat dan disebelah kiri halaman terdapat tafsir dan terjemah.

D.      Karakteristik Penulisan

a.      Sumber Penulisan

Diantara buku pegangan yang dipegang beliau dalam menulis Tafsir Rahmat ini antara lain:

  1. Tafsir al-Manar oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha,
  2. Tafsir al-Maraghi oleh Ahmad Mushtofa al-Maraghi,
  3. Al-Tafsir al-Farid fi al-Qur’an al-Majid oleh Muhammad Abdul Mun’im al-Jamal,
  4. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Fi Dzilal al-Qur’an oleh Sayyid Qutub
  6. Tafsir al-Qur’an oleh Prof.H.Mahmud Yunus
  7. Al-Qur’an dan Terjemahnya oleh Dewan Penterjemah Departemen Agama yang terdiri dari:

a)      Prof. T.M. Hasby al-Shiddiqy,

b)      Prof. H. Bustami A.Gani,

c)      Prof. H. Muchtar Yahya,

d)     Prof. H. M. Toha Jahya Oemar,

e)      Dr. H.A. Mukti Ali,

f)       Drs. Kamal Muchtar,

g)      K.H. A. Musaddad,

h)      K.H. Ali Maksum, dan

i)        Drs.Busjairi Madjidi

  1. Tafsir Qur’an oleh H.Zainuddin Hamidy dan Fachruddin,
  2. Tafsir Bayan oleh Prof.T.M.Hasby al-Shiddiqy.

b.      Proses Penulisan

Oleh karena demi memudahkan pembaca khususnya di zaman globalisasi yang semakin terasa menyempitkan waktu kebanyakan orang dewasa ini, penulis (H. Oemar Bakry) lebih memprioritaskan untuk membuat tafsir yang sangat ringkas dan tidak panjang lebar yang ditandai pula dengan metode ijmali yang dipergunakannya. Selain itu, tafsir yang ringkas satu jilid sebagaimana beliau menyamakannya dengan Tafsir al-Mufassar karya Muhammad Farid Wajdi tersebut tentunya tidak membuat pembaca akan merasa jenuh.

Bakry sendiri lebih menekankan teks Arab. Pertama, dengan tulisan yang lebih besar, dua kali lebih besar dari teks-teks Arab yang terdapat dalam tafsir-tafsir yang disebutkan pada bagian-bagian sebelumnya pada bab ini. Ukuran tersebut sama besarnya dengan teks-teks Arab al-Qur’an yang ada di Indonesia yang tidak disertai terjemahan. Selain itu, teks yang terdapat dalam tafsir Rahmat tidak terputus-putus, dalam format teks Arab, yang nomor-nomor ayatnya dapat ditemukan di permulaan, tengah, atau akhir suatu baris. Keadaannya berbeda dari tafsir-tafsir yang diresensi sampai sejauh ini, yang memakai gaya penyajian ayat-ayat secara per kelompok yang dibatasi oleh baris yang memisahkannya. Tujuan Bakry adalah untuk menyesuaikan karyanya dengan pola penerjemahan al-Qur’an yang umum di dunia Arab. Secara jelas dapat disimpulkan bahwa menurutnya model ini lebih resmi, dan dengan cara penyajian seperti ini akan memudahkan para pembaca. Bakry juga menggunakan tanda-tanda baca yang standar yang ditemukan pada sebagian besar Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa aslinya satu hal yang juga dilakukan oleh Ash-Shiddiqie dalam tafsir al-Bayan.

Dalam Tafsir Rahmat ini, H Oemar Bakry menggunakan terjemahan dengan penggunaan dua segi yakni dilihat dari segi penterjemahan secara harfiah maupun penterjemahan secara makna. Beliau juga menuturkan contoh dari penterjemahan secara harfiah seperti surat al-Ikhlas.

Sedangkan maksud beliau menggunakan penterjemahan secara makna adalah dikarenakan tidaklah semua perkataan dan susunan kalimat diterjemahkan menurut susunan yang ada. Di sana sini diadakan perubahan agar maknanya tepat. Hal ini digunakan beliau untuk menghindari pengertian ayat yang tidak jelas dan susah dipahami jika dipaksakan selalu menggunakan penterjemahan secara harfiah. Sehingga dicarilah kata-kata yang tepat dalam penterjemahan. Menurut beliau tujuan utama dalam menterjemahkan ialah untuk mengambil pengertian dari ayat-ayat itu.

c.         Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan Tafsir Rahmat merupakan tartib mushafy. Pada permulaan kitab didahului beberapa Kata Sambutan, Kata Pengantar, dan petunjuk Pembaca. Di bagian akhir tafsir ini dituliskan beberapa poin besar yang dituliskan dalam susunan bab. Kemudian di bawah bab itu terdiri beberapa subbab yang berkaitan dengan dengan poin utama bab di atas dan ditunjukkan pula letak ayat, surat ke halaman secara berturut-turut, kemudian setelah itu, diberikan pula ayat-ayat yang berhubungan dengan doa, larangan dan perintah. Hal ini memudahkan pembaca untuk mencari ayat yang dimaksud, selanjutnya, format daftar isi yang disusun berdasarkan surat-surat al-Qur’an secaara berurutan dengan dibubuhi letak halaman. Terakhir dilampirkan beberapa karya tulis dan biografi penulis.

Berdasarkan saran dari Duta Besar Kerajaan Arab Saudi di Jakarta, Bakr Abbas Khomais, sistematika Tafsir Rahmat ini disesuaikan dengan Bahasa al-Qur’an al-Karim yakni dibaca dari kanan ke kiri. Dalam Tafsir Rahmat ini, penulis mencoba menghindarkan dari sesuatu yang berhubungan dengan hal khilafiah dan israiliyat sebagaimana yang telah dikemukakan dalam tafsirnya.

d.        Metode dan Corak

Tafsir Rahmat termasuk tafsir yang menggunakan metode ijmali. Selain isi tafsir dalam bidang hukum yang terlihat menyesuaikan masyarakat patriarkhi, penulis seperti telah dikemukakan di atas terlihat lebih menekankan sisi kebahasaan dengan tujuan lebih memudahkan para pembaca.

Bakry mengaku bahwa terjemahan ini memperlihatkan penggunaan kata dan perkembangan bahasa Indonedia, dan menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia yang baru. Dia memberikan tiga contoh untuk menunjukkan bahwa teksnya menggunakan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

Pertama, kata-kata tertentu telah digunakan sesuai dengan konsep-konsep kontemporer. Kata samawat, biasanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai langit, kemudian diterjemahkan dengan ruang angkasa[4] untuk memperlihatkan pemahaman ilmu pengetahuan modern tentang alam semesta dan terminologinya.

Kedua, dia berupaya untuk memberikan penjelasan selangkap-lengkapnya dengan memberikan penjelasan tambahan kepada penerjemahan al-Qur’an terutama jika yang disajikan itu hanya penerjemahan teks yang akan menimbulkan pertanyaan pembaca. Hal ini dia lakukan dengan menambahkan kata-kata tambahan atau kalimat yang diapit oleh tanda kurung. Contoh: Dan orang-orang yang mengikuti (ajaran) al-Kitab (Taurat) dan menunaikan shalat, pasti Kami tidak akan menyia-nyiakan (menghilangkan) pahalanya bagi mereka yang berbuat baik.

Ketiga, dia mengubah praktik gramatika bahasa Arab ke dalam praktik bahasa Indonesia. Misalnya, dalam bahasa Arab istilah “mereka” (hum) digunakan ketika “dia laki-laki/dia perempuan/benda” digunakan dalam bahasa Indonesia. Demikian juga kalimat “Sesungguhnya Allah telah memberikan pertolongan kepadamu pada perang Badar” diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya Allah membantu kamu sekalian pada waktu perang Badar.”

Pada coraknya yang banyak melalui pendekatan kebahasaan inilah, karya Bakry ini memiliki dua keistimewaan yang mendapat banyak perhatian.

Pertama, adalah perhatiannya, bahwa karyanya menggunakan bahasa Indonesia modern dan lebih memperhatikan perkembangan zaman daripada tafsir-tafsir yang lebih tua. Satu perbandingan dengan tafsir-tafsir generasi kedua menunjukkan bahwa tafsir-tafsir tersebut memiliki beberapa teks yang muluk-muluk dan menggunakan kata-kata yang jarang digunakan dewasa ini, meskipun para editor dari teks-teks yang lebih tua tersebut telah melakukan pembenaran ejaan untuk menyesuaikannya kepada ejaan yang diperbaharui pada awal 1970-an, dan pembaharuan teks-teks terlihat terjadi di beberapa tempat. Hal yang sama juga terjadi pada tafsir-tafsir generasi ketiga. Al-Qur’an dan Terjemahnya sejajar dengan tafsir Bakry dalam penggunaannya dewasa ini.

Kedua, Bakry menekankan pembahasannya kepada kesesuaian al-Qur’an dengan perkembangan teknologi, seperti contoh lafadz samawat di atas. Sebagai perkembangan lebih jauh dari ide tersebut, dia menyediakan satu indeks tema-tema al-Qur’an yang dilengkapi dengan rujukan ke teks-teks yang sesuai. Tema-tema tersebut berhubungan dengan masalah ‘keimanan, penyembahan, perkawinan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, ekonomi, masyarakat dan bangsa, identitas budaya, dan sejarah. Bagian yang menjelaskan tentang ‘kesehatan’ yang merupakan penjelasan singkat mengenai enam topik, dapat dijadikan sebagai satu contoh dari tulisan tersebut. Rujukan kepada al-Qur’an yang sebenarnya tidak diberikan dalam contoh ini hanya seluruh poin-poin disusun dalam posisi yang menarik.

e.         Penyempitan Makna Kata

Sebenarnya ‘penyempitan makna’ bukan hanya ditemukan pada Tafsir Rahmat saja, tapi juga pada hampir setiap kitab tafsir. Tafsir Rahmat sebagai salah satu hasil karya tafsir di Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannyapun mengalami hal demikian. Meskipun tafsir ini mampu membuka akal para ilmuwan untuk menggunakan al-Qur’an sebagai referensi, mempermudah pemahaman kaum awam bahasa Arab di Indonesia sebagai jembatan mencintai al-Qur’an, tapi juga terkadang masih mempersempit maksud ayat hingga kemungkinan adanya tambahan informasi sains dan pengetahuan lain tertutup, menjadikan rancu pemahaman kebahasaan, dan bila pembaca hanya berhenti sampai tafsir ini saja tanpa ada pemahaman terhadap tafsir lain, maka terasa kurang bila pembaca tersebut menjadikannya sebagai keputusan final. Hal ini dikarenakan setiap kali seseorang melakukan proses penafsiran atau penerjemahan, berarti ia sedang mencoba menjelaskan atau mengurai sesuatu, yang menunjukkan lagi bahwa ia melakukan proses pemisahan hal-hal yang lebih terperinci atau sempit dari yang lebih luas, sebagaimana lafadz ‘samawat’ yang diartikan ‘ruang angkasa’. Yang jelas satu kalimat dalam al-Qur’an sering kali ditemukan arti yang lebih universal.

Kekayaan rasa ungkapan dan ketetapan kata yang termaktub dalam al-Qur’an barang kali akan lebih terasa jika kita menyimak kalimat-kalimat asma al-husna. Kallimat yang biasa diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai pemaaf, pemberi ampun, atau pun yang lainnya juga dianggap para ulama belum mampu memenuhi maksud dari , العفوّ, الغفور, الغفّار , begitu juga dengan   الرحمان, الرحيم hal ini menurut Hamka bisa disebabkan oleh 2 hal, pertama, kekurangan dari bahasa kita sendiri, tempat dia diartikan, dan kekurangan dari penafsir sendiri, sehingga tidak sanggup mencari ungkapan yang lebih tepat.

f.         Pemaknaan Dhomir yang Praktis

Pada hal ini, selain mengkritisi dari kekurangan kekayaan bahasa Indonesia sendiri, pemakalah agak kurang setuju dengan bentuk penerjemahan penulis yang mengartikan makna hum pada kalimat kedua dan ketiga dalam satu ayat dengan arti ‘dia’, ‘nya’, atau ‘ia’.

Kata penghubung yang amat jarang penggunaannya dalam bahasa Indonesia

Dalam bahasa Inggris terdapat istilah pre-position. Penggunaan pre-position yang berbeda-beda menjadikan arti yang berbeda pula meskipun melekat pada satu verb. Begitu pula dengan bahasa Arab, terdapat huruf jar yang seringkali melekat pada kalimat fi’il. Contoh yang dikemukakan penulis adalah adalah kalimat ragiba fihi dan ragiba anhu. Sedangkan dalam bahasa Indonesia hampir tidak ada hal demikian. Akan tetapi di sini pemakalah kurang sependapat dengan contoh kedua yang diutarakan penulis pada surat al-Baqarah [2] : 61.

øŒÎ)ur óOçFù=è% 4Óy›qßJ»tƒ `s9 uŽÉ9óÁ¯R 4’n?tã 5Q$yèsÛ 7‰Ïnºur äí÷Š$$sù $oYs9 š­/u‘ ól̍øƒä† $uZs9 $®ÿÊE àMÎ6.^è? ÞÚö‘F{$# .`ÏB $ygÎ=ø)t/ $ygͬ!$¨VÏ%ur $ygÏBqèùur $pkŝy‰tãur $ygÎ=|Át/ur ( tA$s% šcqä9ωö7tGó¡n@r& ”Ï%©!$# uqèd 4†oT÷Šr& ”Ï%©!$$Î/ uqèd îŽöyz 4 (#qäÜÎ7÷d$# #\óÁÏB ¨bÎ*sù Nà6s9 $¨B óOçFø9r’y™ 3 ôMt/ΎàÑur ÞOÎgøŠn=tæ ä’©!Éj‹9$# èpuZx6ó¡yJø9$#ur râä!$t/ur 5=ŸÒtóÎ/ šÆÏiB «!$# 3 y7Ï9ºsŒ óOßg¯Rr’Î/ (#qçR%x. šcrãàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# šcqè=çGø)tƒur z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# ΎötóÎ/ Èd,yÛø9$# 3 y7Ï9ºsŒ $oÿÏ3 (#q|Átã (#qçR$Ÿ2¨r šcr߉tF÷ètƒ ÇÏÊÈ

Dan (ingatlah) ketika kamu (Bani Israil)berkata: “Hai Musa! Kami tidak sabar (senang) dengan satu jenis makanan saja (manna dan salwa). Mintakanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar diberinya kami sayur-sayuran (buah-buahan) yang tumbuh di muka bumi seperti: ketimun, bawang putih, kacang, adas, dan bawang merah”. Musa menjawab, “Apakah kamu meminta tukar yang baik dengan yang buruk?. Pergilah kamu ke sesuatu kota, di sana kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakan kepadanya kehinaan dan kemiskinan dan mereka dimurkai Allah SWT. Peristiwa itu terjadi karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah SWT dan membunuh para nabi tanpa ada alasan yang benar. Kejadian itu karena mereka durhaka dan perbuatannya yang melampaui batas.[5]

Pemakalah di sini menggaris bawahi jawaban nabi Musa yang diterjemahkan dengan singkat oleh Bakry ‘Apakah kamu meminta tukar yang baik dengan yang buruk?’. Orang yang membaca terjemahan teks berbahasa Indonesia ini praktis berkesimpulan bahwa manna dan salwa itu lebih baik dari pada sayur-sayuran  yang tumbuh di muka bumi, tapi sepengetahuan pemakalah dalam memahami teks Arabnya adalah ‘Apakah kalian meminta ganti sesuatu yang buruk dengan yang lebih baik’, yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut bisa menunjukkan dua makna. Pertama, Manna dan Salwa itu memang buruk dan sayuran yang tumbuh di bumi itu lebih baik. kedua, kalimat tersebut merupakan kalimat retoris yang berarti manna dan salwa itu lebih baik dan sayuran yang tumbuh di bumi itu lebih buruk.

Contoh Tafsir pada Surat al-Ra’d [13] : 31.

öqs9ur ¨br& $ZR#uäöè% ôNuŽÉiß™ ÏmÎ/ ãA$t6Éfø9$# ÷rr& ôMyèÏeÜè% ÏmÎ/ ÞÚö‘F{$# ÷rr& tLÍj>ä. ÏmÎ/ 4’tAöqyJø9$# 3 @t/ °! ãøBF{$# $·èŠÏHsd 3 öNn=sùr& ħt«÷ƒ($tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä br& öq©9 âä!$t±o„ ª!$# “y‰ygs9 }¨$¨Z9$# $YèŠÏHsd 3 Ÿwur ãA#t“tƒ tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Nåkâ:ÅÁè? $yJÎ/ (#qãèoY|¹ îptã͑$s% ÷rr& ‘@çtrB $Y7ƒÌs% `ÏiB öNÏd͑#yŠ 4Ó®Lym u’ÎAù’tƒ ߉ôãur «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ÿw ß#Î=øƒä† yŠ$yè‹ÎRùQ$# ÇÌÊÈ

“Andaikata ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dapat menggoncangkan gunung dan membelah bumi atau dapat menjadikan orang-orang mati berbicara (niscaya orang-orang kafir itu tidak juga akan beriman). Semua urusan berada pada kekuasaan Allah. Apakah orang-orang beriman tidak menyadari, bahwa seandainya Allah menghendaki, barang tentu Allah memberi petunjuk kepada semua manusia. Dan orang-orang kafir selalu ditimpa kesengsaraan karena perbuatan mereka sendiri atau bencana itu menimpa berdekatan dengan rumah mereka, hingga Allah melaksanakan janji-Nya. Sesungguhnya Allah tidak memungkiri janji.”

Ayat 30-34 menerangkan:

  1. Membangkangnya kaum kafir terhadap seruan Muhammad, adalah suatu kejadian yang sering dialami oleh rasul-rasul yang terdahulu. Wahyu Allah yang disampaikan rasul-rasul itu tidak mereka terima. Walaupun bagaimana peringatan tidak mereka indahkan. Mereka menunggu hukuman apa yang akan dijatuhkan Allah kepada mereka.
  2. Orang-orang kafir itu sudah merasa enak saja bergelimang dalam dosa. Segala kemaksiatan yang mereka lakukan diduganya baik. Begitulah orang yang sudah kemasukan himbauan syaitan. Di dalam masyarakat modern sekarang, hal seperti itu juga kita jumpai. Para pembesar tidak menggubris seruan para juru dakwah. Mereka sudah dibawa hanyut oleh arus kemewahan dan berbagai perbuatan yang menimpang dari ajaran agama. Mereka tidak merasa salah, bahkan itu yang baik, katanya.

E.  Kelebihan dan Kekurangan

Berkaitan dengan kelebihan yang dapat pemakalah ambil dari Tafsir Rahmat ini, antara lain:

  1. Bahasannya ramah atau enak dibaca. Pemakalah melihat melihat dalam tafsir ini penggunaan bahasa yang digunakan oleh H. Oemar Bakry ini hampir mirip dengan bahasa yang dipakai sehari-hari.
  2. Tafsirnya sangat ringkas. Sebagaimana contoh diatas yakni berupa ringkasan belaka.
  3. Sistematika penulisannya dari kanan ke kiri.
  4. Penafsirannya yang menitik beratkan pada ilmu teknologi (menggugah semangat para Ilmuan).
  5. Penerjemah radikal, hal ini diakui sendiri oleh beliau dalam kata pengantarnya, seperti `aljannatu tajri min tahtihal anhar` diartikan surga yang sungainya mengalir.

Akan tetapi, seperti halnya pada penerjemahan atau penafsiran-penafsiran lainnya, pemakalah di sini juga menganggap kelebihan tadi bisa menjadi sisi kekurangannya, dengan alasan klasik bahwa al-Qur’an merupakan sebuah teks yang sholih likulli zaman wa al-makan dan tentunya menggunakan bahasa yang universal, sehingga teks al-Qur’an yang berbahasa Arab akan tetap sulit diterjemahkan dalam bahasa non-Arab (ajam). Dalam prakteknya terkadang terjemahan bisa jauh lebih khusus dan mengalami penyempitan makna.

Betapapun halus atau objektifnya suatu penafsiran, tentu ia mengandung kesalahan. Hal ini antara lain dikarenakan karena mufassir berarti ia mencoba mendefinisikan apa yang ia baca dan yang sesuai dengan pemikirannya, sedangkan bila hasil pemikiran tersebut dibaca oleh pembaca yang lainnya tentu terdapat pergeseran-pergeseran makna yang terdapat dalam cakrawala pembaca (interpreteur) selanjutnya. Munculnya variasi memperlihatkan satu sifat penurunan suatu teks yang tidak setia. Secara disengaja atau tidak, penurunan yang dilakukan oleh manusia penyalin akan menimbulkan bentuk penyalinan yang tidak setia. Faktor manusia dengan berbagai keterbatasannya dan manusia dengan berbagai subjektivitasnya mempunyai peran yang penting dan menentukan terhadap wujud hasil salinannya.

Lebih rincinya yang menjadi kekurangan Tafsir Rahmat ini menurut penulis antara lain:

v  Penyempitan makna kata

Sebenarnya ‘penyempitan makna’ bukan hanya ditemukan pada Tafsir Rahmat saja, tapi juga pada hampir setiap kitab tafsir. Tafsir Rahmat sebagai salah satu hasil karya tafsir di Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya pun mengalami hal demikian. Meskipun tafsir ini mampu membuka akal para ilmuwan untuk menggunakan al-Qur’an sebagai referensi, mempermudah pemahaman kaum awam bahasa Arab di Indonesia sebagai jembatan mencintai al-Qur’an, tapi juga terkadang masih mempersempit maksud ayat hingga kemungkinan adanya tambahan informasi sains dan pengetahuan lain tertutup, menjadikan rancu pemahaman kebahasaan dan bila pembaca hanya berhenti sampai tafsir ini saja tanpa ada pemahaman terhadap tafsir lain, maka terasa kurang bila pembaca tersebut menjadikannya sebagai keputusan final. Hal ini dikarenakan setiap kali seseorang melakukan proses penafsiran atau penerjemahan, berarti ia sedang mencoba menjelaskan atau mengurai sesuatu, yang menunjukkan lagi bahwa ia melakukan proses pemisahan hal-hal yang lebih terperinci atau sempit dari yang lebih luas, sebagaimana lafadz ‘samawat’ yang diartikan ‘ruang angkasa’. Yang jelas satu kalimat dalam al-Qur’an sering kali ditemukan arti yang lebih universal.

v  Pemaknaan dhomir yang praktis

Pada hal ini, selain mengkritisi dari kekurangan kekayaan bahasa Indonesia sendiri, pemakalah agak kurang setuju dengan bentuk penerjemahan penulis yang mengartikan makna hum pada kalimat kedua dan ketiga dalam satu ayat dengan arti ‘dia’, ‘nya’, atau ‘ia’.

v  Masih terdapat kesalahan dalam penulisan petunjuk moto dakwah, contoh: moto dakwah pada bab ke VII EKONOMI, sub Koperasi dan Gotong royong. Di situ ditunjukkan QS. Al-Qashash pada hlm 77, padahal terdapat pada hlm 767.

v  Menerjemahkan “ كُمْ ” dengan kamu[6]

BAB III

PENUTUP

A.      Simpulan

Kesimpulan dari makalah ini ialah :

  1. Tafsir Rahmat termasuk tafsir yang menggunakan metode ijmali. Selain isi tafsir dalam bidang hukum yang terlihat menyesuaikan masyarakat patriarkhi, penulis seperti telah dikemukakan di atas terlihat lebih menekankan sisi kebahasaan dengan tujuan lebih memudahkan para pembaca.
  2. Bahasannya ramah atau enak dibaca.
  3. Tafsirnya sangat ringkas.
  4. Sistematika penulisannya dari kanan ke kiri.
  5. Penafsirannya yang menitik beratkan pada ilmu teknologi (menggugah semangat para Ilmuan).
  6. Penerjemah radikal.

DAFTAR PUSTAKA


[1] Tafsir Rahmat

[2] Polemik H. Oemar Bakri dengan H.B. Jassin tentang Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia, (Jakarta: Mutiara, 1979), hal.36.

[3] Howard M. Federspiel, Kajian Al-Qur,an di Indonesia dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, (Bandung: Mizan,1996), hal. 156

[4] Lihat Tafsir Rahmat hal. 1145 dalam menafsirkan surah al-Mulk ayat: 3

[5] H. Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, h.21

[6] Lihat Tafsir Rahmat hlm. 1267 ketika menerjemahkan surah Al-Kaafiruun